INFORMASI TENTANG TANAMAN KEBUN
1. Tanaman Padi
Padi
(bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada
jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis
dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India
atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh
nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.[1]
Produksi
padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun, padi
merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Hasil
dari pengolahan padi dinamakan beras.
Ciri ciri
Padi
termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae. Terna semusim,berakar
serabut,batang sangat pendek,struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian
pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak,daun
berbentuk lanset,warna hijau muda hingga hijau tua,berurat daun
sejajar,tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang,bagian bunga tersusun
majemuk,tipe malai bercabang,satuan bunga disebut floret yang terletak
pada satu spikelet yang duduk pada panikula,tipe buah bulir atau kariopsis yang
tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya,bentuk hampir bulat hingga
lonjong,ukuran 3mm hingga 15mm,tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa
sehari-hari disebut sekam,struktur dominan padi yang biasa dikonsumsi yaitu
jenis enduspermium.
Reproduksi
Setiap
bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma)
bercabang dua berbentuk sikat botol.Kedua organ seksual ini umumnya siap
bereproduksi dalam waktu yang bersamaan.Kepala sari kadang-kadang keluar dari
palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi,padi merupakan tanaman
berpenyerbukan sendiri,karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur
tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi,zigot dan inti polar yang telah
dibuahi segera membelah diri.Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar
menjadi endosperm.Pada akhir perkembangan,sebagian besar bulir padi mengadung
pati dibagian endosperm.Bagi tanaman muda,pati dimanfaatkan sebagai sumber
gizi.
Genetika dan pemuliaan
Satu
set genom padi terdiri atas 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel
padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).
Padi
merupakan organisme model
dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat
manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108
pasangan basa (base pairs, bp)[2].
Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia.
Perbaikan
genetik padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil
tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal, seperti 'Rajalele' dari Klaten atau 'Pandanwangi' dari Cianjur di Indonesia atau 'Basmati Rice'
dari India utara. Orang juga berhasil
mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan
penggenangan atau padi rawa yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman
air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe
padi.
Pemuliaan padi secara sistematis baru
dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina sebagai bagian dari gerakan
modernisasi pertanian dunia yang dijuluki sebagai Revolusi Hijau. Sejak saat itu muncullah
berbagai kultivar padi dengan daya hasil tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan
dunia. Dua kultivar padi modern pertama adalah 'IR5' dan 'IR8' (di Indonesia
diadaptasi menjadi 'PB5' dan 'PB8'). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak
petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama
wereng coklat pada tahun 1970-an.
Ribuan
persilangan kemudian dirancang untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil
tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 pemerintah
Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB
(FAO)
karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat
berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras.
Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007.
Hadirnya
bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an
memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss
mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan
menurunkan penggunaan pestisida. IRRI, bekerja sama dengan beberapa lembaga
lain, merakit "Padi emas" (Golden
Rice) yang dapat menghasilkan provitamin A pada berasnya, yang diarahkan
bagi pengentasan defisiensi vitamin A
di berbagai negara berkembang.
Suatu tim peneliti dari Jepang juga
mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera[3]. Diharapkan beras yang dihasilkan padi
ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera,
terutama di negara-negara berkembang.
Sejak
tahun 1970-an telah diusahakan pengembangan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih
tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan
harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.
Selain
perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang
lebih tahan terhadap berbagai organisme
pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti
kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada
peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perancangan kultivar
mengandung karoten (provitamin A).
Keanekaragaman genetik
Hingga
sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia
secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia
dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.
Pada
awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica
(sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur
tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki "ekor" atau
"bulu" (Ing. awn),
bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica,
sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak
ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai
lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi,
persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan
ini adalah kultivar 'IR8', yang merupakan hasil
seleksi dari persilangan japonica (kultivar 'Deegeowoogen' dari Formosa) dengan indica (kultivar
'Peta' dari Indonesia). Selain kedua varietas ini,
dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua
tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Kajian
dengan bantuan teknik biologi molekular
sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica
dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif
tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi
pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina
(padi pasang-surut dari India), dan aromatic
(padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi
basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP
dibantu dengan isozim.[4]
Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom
inti sel dan dua lokus
pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica
dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi
menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica ("japonica
daerah sejuk" dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica ("japonica
daerah tropika" dari Nusantara), dan aromatic.
Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.[5]
Berdasarkan
bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica
terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon.[5] Domestikasi padi
terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah
ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi)
10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.[6]
Keanekaragaman budidaya
Padi gogo
Di
beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi
lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah.
Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan
dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.Biasanya di daerah
yang hanya bisa bercocok tanam padi gogo menggunakan model Tumpang Sari. Sistem
Tumpang sari yaitu dalam sekali tanam tidak hanya menanam padi, akan tetapi
juga tanaman lain dalam satu lahan. Padi gogo biasanya di tumpang sari dengan
jagung atau Ketela Pohon.
Padi rawa
Padi
rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa.
Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi
rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan
kedalaman air yang ekstrem musiman.
Keanekaragaman tipe beras/nasi
Padi pera
Padi
pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati
lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak
tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar
orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di
pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari
konsistensi nasinya.
Ketan
Ketan
(sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak
dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya
didominasi oleh amilopektin,
sehingga jika ditanak sangat lekat.
Padi wangi
Padi
wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat
di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi
kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica
yang berumur panjang.
Di
luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji
pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap
terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan
padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal
revolusi hijau dalam budidaya padi.
Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar
perintis tadi. tes
Aspek budidaya
Teknik
budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah
sistem budidaya diterapkan untuk padi.
- Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy
field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
- Budidaya padi lahan kering,
dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah.
- Budidaya padi lahan rawa,
dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan.
- Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi
dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim
hujan singkat.
Setiap
sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem.
Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.
Secara
ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pemindahan atau penanaman,
pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta
pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam
rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan
penyimpanan biji.
Hama dan penyakit
Hama-hama penting
- Penggerek
batang padi putih ("sundep", Scirpophaga innotata)
- Penggerek
batang padi kuning (S. incertulas)
- Wereng
batang punggung putih (Sogatella furcifera)
- Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
- Wereng hijau (Nephotettix
impicticeps)
- Lembing hijau (Nezara viridula)
- Walang sangit (Leptocorisa oratorius)
- Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
- Lalat bibit (Arterigona exigua)
- Ulat tentara/Ulat grayak (Spodoptera
litura dan S. exigua)
- Tikus sawah (Rattus argentiventer)
Penyakit-penyakit penting
- blas (Pyricularia oryzae, P.
grisea)
- hawar daun bakteri ("kresek", Xanthomonas oryzae
pv. oryzae)
Pengolahan gabah menjadi nasi
Setelah
padi dipanen, bulir padi atau gabah
dipisahkan dari jerami padi. Pemisahan dilakukan dengan
memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin
pemisah gabah.
Gabah
yang terlepas lalu dikumpulkan dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak
dipisahkan lebih dulu dari jerami, dan dijemur bersama dengan merangnya.
Penjemuran biasanya memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan
penyinaran matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah
"Gabah Kering Giling"
(GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk digiling. (Lihat
pranala luar). Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor atau perdagangan partai besar.
Gabah
yang telah kering disimpan atau langsung ditumbuk/digiling, sehingga beras
terpisah dari sekam (kulit gabah). Beras merupakan bentuk
olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Hasil
sampingan yang diperoleh dari pemisahan ini adalah:
- sekam (atau merang), yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar
- bekatul, yakni serbuk kulit ari beras; digunakan sebagai bahan
makanan ternak, dan
- dedak, campuran bekatul kasar dengan serpihan sekam yang
kecil-kecil; untuk makanan ternak.
Beras
dapat dikukus atau ditim
agar menjadi nasi yang siap dimakan. Beras atau ketan
yang ditim dengan air berlebih akan menjadi bubur.
Pengukusan beras dapat juga dilakukan dengan pembungkus, misalnya dengan
anyaman daun kelapa muda menjadi ketupat, dengan daun pisang menjadi lontong, atau dengan bumbung bambu
yang disebut lemang (biasanya dengan santan). Beras juga dapat diolah menjadi minuman
penyegar (beras kencur) atau
obat balur untuk mengurangi rasa pegal (param).
Produksi padi dan perdagangan dunia
Negara
produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat
Tiongkok (28% dari total produksi dunia), India
(21%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil
produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total
produksi dunia). Thailand merupakan
pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia)
diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan
pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia)
diikuti Bangladesh (4%), dan Brasil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54
juta ton , kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset
dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang
disebabkan gejala ENSO.
2. tanaman jagung
Jagung (Zea
mays ssp. mays) adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia,
selain gandum dan padi.
Bagi penduduk Amerika Tengah
dan Selatan, bulir
jagung adalah pangan pokok,
sebagaimana bagi sebagian penduduk Afrika dan beberapa
daerah di Indonesia. Di masa kini, jagung juga sudah
menjadi komponen penting pakan ternak. Penggunaan
lainnya adalah sebagai sumber minyak pangan dan bahan dasar tepung maizena. Berbagai produk turunan
hasil jagung menjadi bahan baku berbagai produk industri. Beberapa di antaranya adalah bioenergi, industri kimia, kosmetika, dan farmasi.
Dari
sisi botani dan agronomi, jagung merupakan tanaman model yang menarik[1][2],
khususnya di bidang genetika, fisiologi, dan pemupukan.
Sejak awal abad ke-20,
tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif. Secara fisiologi,
tanaman ini tergolong tanaman C4
sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari. Sebagian jagung juga
merupakan tanaman hari pendek
yang pembungaannya terjadi jika mendapat penyinaran di bawah panjang penyinaran
matahari tertentu, biasanya 12,5 jam[3]
Sejarah dan asal-usul
Teori
yang banyak dianut menyatakan bahwa jagung didomestikasi pertama kali oleh penghuni lembah
Tehuacan, Meksiko[4]. Bangsa Olmek dan Maya diketahui sudah membudidayakan di
seantero Amerika Tengah
sejak 10.000 tahun yang lalu dan mengenal berbagai teknik pengolahan hasil.
Teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan
(Ekuador) sekitar 7.000 tahun yang lalu, dan
mencapai daerah pegunungan di selatan Peru
pada 4.000 tahun yang lalu. Pada saat inilah berkembang jagung yang beradaptasi
dengan suhu rendah di kawasan Pegunungan Andes.[5].
Sejak 2500 SM, tanaman ini telah dikenal di berbagai penjuru Benua Amerika[6].
Kedatangan
orang-orang Eropa sejak akhir abad ke-15 membawa serta
jenis-jenis jagung ke Dunia Lama, baik ke Eropa
maupun Asia. Pengembaraan jagung ke Asia
dipercepat dengan terbukanya jalur barat yang dipelopori oleh armada pimpinan Ferdinand Magellan
melintasi Samudera Pasifik.
Di tempat-tempat baru ini jagung relatif mudah beradaptasi karena tanaman ini
memiliki elastisitas
fenotipe yang tinggi.
Di
Indonesia (Nusantara), berbagai macam nama dipakai untuk menyebut jagung. Kata
"jagung" menurut Denys Lombard
merupakan penyingkatan dari jawa agung, berarti "jewawut
besar"[7], nama yang digunakan orang Jawa. Beberapa nama daerah adalah jagong
(Sunda, Aceh, Batak, Ambon), jago (Bima), jhaghung (Madura), rigi (Nias), eyako
(Enggano), wataru (Sumba), latung (Flores), fata (Solor), pena
(Timor), gandung (Toraja), kastela (Halmahera), telo
(Tidore), binthe atau binde (Gorontalo dan Buol), dan barelle´ (Bugis)[8].
Di kawasan timur Indonesia juga dipakai luas istilah milu[9],
yang jelas berasal dari milho, berarti "jagung" dalam bahasa Portugis, .
Jagung
budidaya dianggap sebagai keturunan langsung sejenis tanaman rerumputan mirip
jagung yang bernama teosinte (Zea mays
ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling
tidak 7.000 tahun lalu oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari
subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah
teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus
Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi
menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat
hidup secara liar di alam[10].
Pertelaan botani
Jagung
merupakan tanaman semusim.
Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus
merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan
generatif.
Tinggi
tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian
1 m sampai 3 m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6 m. Tinggi tanaman
biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan.
Meskipun ada yang dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung
tidak memiliki kemampuan ini.
Sebagai
anggota monokotil, jagung berakar serabut yang
dapat mencapai kedalaman 80 cm meskipun sebagian besar berada pada kisaran
20 cm. Tanaman yang sudah cukup dewasa memunculkan akar adventif dari buku-buku batang bagian
bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang
jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana pada sorgum dan tebu.
Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset.
Batangnya beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang
jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung zat kayu (lignin).
Daun
jagung merupakan daun sempurna, memiliki pelepah, tangkai, dan helai daun.
Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat lidah-lidah (ligula). Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun.
Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma
pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki Poaceae (suku rumput-rumputan). Setiap
stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk
kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit
air pada sel-sel daun. Jika tanaman mengalami kekeringan, sel-sel kipas akan
mengerut, menutup lubang stomata, dan membuat daun melipat ke bawah sehingga
mengurangi transpirasi.
Susunan
bunga jagung adalah diklin: memiliki bunga jantan dan bunga betina yang
terpisah dalam satu tanaman (berumah satu atau monoecious). Bunga
tersusun majemuk, bunga jantan tersusun dalam bentuk malai, sedangkan betina
dalam bentuk tongkol. Pada jagung, kuntum bunga (floret) tersusun berpasangan
yang dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Rangkaian bunga
jantan tumbuh di bagian puncak tanaman. Serbuk sari berwarna kuning dan
beraroma wangi yang khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tangkai tongkol
tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
Pada
umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif yang
memiliki puluhan sampai ratusan bunga betina. Beberapa kultivar unggul dapat
menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai jagung
prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih
dini daripada bunga betinanya (protandri).
Genetika dan keanekaragaman
Satu
set genom (x) jagung terdiri dari 10 kromosom, sehingga 2n = 2x =
20. Keragaman dalam jagung amat luas, sebanding dengan perbedaan manusia dan chimpanze secara molekuler[11].
Jagung yang dibudidayakan memiliki sifat bulir/biji
yang bermacam-macam. Terdapat enam kelompok kultivar jagung berdasarkan
karakteristik endosperma :
- Indentata (Dent,
"jagung gigi-kuda")
- Indurata (Flint,
"mutiara")
- Saccharata (Sweet,
"manis")
- Everta (Popcorn,
"berondong")
- Amylacea (Floury corn,
"tepung")
- Glutinosa (Sticky/glutinuous
corn, "ketan")
- Tunicata (Podcorn,
"jagung bersisik", merupakan kelompok kultivar yang paling
primitif dan anggota subspesies yang berbeda dari jagung budidaya
lainnya).
Dengan
perkembangan pemuliaan jagung,
pada masa sekarang dikenal jagung minyak (dengan kandungan minyak lebih dari
10%) serta QPM (Quality Protein Maize, jagung
dengan protein tinggi). Jagung dengan kadar karotenoid tinggi juga telah dikembangkan.
Dipandang
dari bagaimana suatu kultivar
("varietas") jagung dibuat, dikenal tipe kultivar:
- galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur terpilih
- komposit, dibuat dari campuran beberapa populasi jagung unggul
yang diseleksi untuk keseragaman dan sifat-sifat unggul
- sintetik, dibuat dari gabungan beberapa galur jagung yang
memiliki keunggulan umum (daya gabung umum) dan seragam
- hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan
dua, tiga, atau empat galur yang diketahui menghasilkan efek heterosis.
Warna
bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan terluarnya (aleuron), mulai dari putih, kuning, jingga,
merah cerah, merah darah, ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol jagung
dapat memiliki bermacam-macam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap
bulir terbentuk dari penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda.
Budidaya
Organisme pengganggu
Organisme
pengganggu dalam budidaya jagung di daerah tropika dan non-tropika berbeda.
Di
kawasan Asia tropika, penyakit utama jagung adalah
- penyakit bulai (maize downy mildew)
karena infeksi Peronosclerospora,
- karat daun jagung karena cendawan Puccinia (terutama P. polysora),
- busuk tongkol oleh cendawan Fusarium, Diplodia, dan Gibberella,
- bercak daun
jagung (Southern leaf blight) karena cendawan Bipolaris maydis
(teleomorf: Cochliobolus
heterostrophus),
- hawar daun jagung
(Northern leaf blight) karena cendawan Setosphaeria
turcica (anamorf: Exserohilum
turcicum),
- busuk pelepah (sheath blight)
karena cendawan Rhizoctonia
solani,
- busuk batang
jagung karena bermacam-macam cendawan dan oomycetes, dan
- penyakit
mosaik kerdil jagung karena infeksi Maize
Dwarf Mosaic Virus.
Hama
utama jagung adalah
- penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis
(Asia tropika) dan Ostrinia
nubilalis (daerah subtropika dan iklim empat musim)
- lalat bibit Atherigona spp.,
- uret, terutama Lepidiota stigma
(Jawa dan Sumatera),
- ulat tanah, seperti Agrotis,
- ulat grayak Spodoptera,
- penggerek tongkol Helicoverpa
armigera
- belalang kembara Locusta
migratoria,
- tikus sawah Rattus
argentiventer,
- kumbang gudang, terutama Sitophilus
zeamais, dan
- ngengat gudang, seperti Sitotroga.
Di
Afrika tropis dikenal gulma sekaligus parasit berbahaya yang diawasi ketat agar
tidak masuk ke kawasan Asia tropika, yaitu striga.
Kandungan gizi
Biji
jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium.
Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji.
Karbohidrat dalam bentuk pati
umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian
besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak
berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai
bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi
mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.[12].
Kandungan
gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:[13]
- Kalori : 355 Kalori
- Protein : 9,2 gr
- Lemak : 3,9 gr
- Karbohidrat : 73,7 gr
- Kalsium : 10 mg
- Fosfor : 256 mg
- Ferrum : 2,4 mg
- Vitamin A : 510 SI
- Vitamin B1 : 0,38 mg
- Air : 12 gr
Dan
bagian yang dapat dimakan 90 %.
Untuk
ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih
rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak.
Jagung
merupakan tanaman semusim
(annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Pemanfaatan
Produk
utama jagung adalah bijinya, yang menjadi bahan pangan dan bahan baku pakan.
Sebagai
bahan pangan, biji jagung direbus lalu dimakan langsung atau digiling kasar
menjadi pangan sarapan serealia atau dihaluskan menjadi tepung maizena. SEbagai
pakan, jagung kering diberikan langsung atau dipecah atau digiling.
Saat
ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif.[14]
Lebih
dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran
pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur
polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap
dipasarkan. [15]
Produksi jagung dan perdagangan dunia
Indonesia
pada tahun 2012 menempati peringkat ke-8 produsen jagung (pipilan kering)
dunia. Provinsi penyumbang produksi terbanyak jagung adalah Jawa Timur 5 jt ton, Jawa Tengah 3,3 jt ton; Lampung 2 jt ton; Sulawesi Selatan 1,3 jt ton; Sumatera Utara 1,2 jt ton; Jawa Barat 700 – 800 rb ton, dan sisanya
yang signifikan adalah NTT, NTB,
Jambi, dan Gorontalo. Rata-rata produksi per tahun
jagung nasional adalah 16 jt ton per tahun [16].
Produksi tahun 2013 mengalami sedikit penurunan, meskipun produktivitas
(produksi dibagi luasan tanam) meningkat.
Berdasarkan
data FAO, produksi jagung dunia tahun 2012
sebesar 872 juta ton pipilan kering. Berikut adalah data
produksi dari sumber yang sama menurut negara penghasil. Data ini tidak
memasukkan produksi jagung manis, jagung muda (babycorn), serta jagung
untuk hijauan pakan ternak.
3. tanaman sorgum
Sorgum (Sorghum
spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan
sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan ke-5, sorgum
berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.
Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara.
Spesies
- Sorghum almum
- Sorghum amplum
- Sorghum angustum
- Sorghum
arundinaceum
- Sorghum bicolor
- Sorghum
brachypodum
- Sorghum bulbosum
- Sorghum
burmahicum
- Sorghum
controversum
- Sorghum drummondii
- Sorghum
ecarinatum
- Sorghum exstans
- Sorghum grande
- Sorghum halepense
- Sorghum interjectum
- Sorghum intrans
- Sorghum
laxiflorum
- Sorghum
leiocladum
- Sorghum
macrospermum
- Sorghum
matarankense
- Sorghum miliaceum
- Sorghum nitidum
- Sorghum plumosum
- Sorghum
propinquum
- Sorghum
purpureosericeum
- Sorghum
stipoideum
- Sorghum timorense
- Sorghum
trichocladum
- Sorghum
versicolor
- Sorghum virgatum
- Sorghum vulgare
- Andropogon
sorghum
4. Tanaman singkong / ketela pohon
Ketela pohon,
ubi kayu, atau singkong (Manihot utilissima) adalah perdu
tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae. Umbinya
dikenal luas sebagai makanan pokok
penghasil karbohidrat dan daunnya
sebagai sayuran.
Deskripsi
Perdu,
bisa mencapai 7 meter tinggi, dengan cabang agak jarang. Akar tunggang dengan
sejumlah akar cabang yang kemudian membesar menjadi umbi
akar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata bergaris tengah 2–3 cm dan
panjang 50–80 cm, tergantung dari klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna
putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun
ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya
warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun
bagi manusia.
Umbi
ketela pohon merupakan sumber energi
yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru
terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionina.
Sejarah dan pengaruh ekonomi
Sejarah Budidaya dan Penyebarannya
Manihot esculenta
pertama kali dikenal di Amerika Selatan
kemudian dikembangkan pada masa prasejarah di Brasil dan Paraguay, sejak kurang lebih 10 ribu tahun
yang lalu. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat
ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot
yang liar ada banyak, semua kultivar M. esculenta dapat dibudidayakan.
Walaupun demikian, bukti-bukti arkeologis budidaya singkong justru banyak
ditemukan di kebudayaan Indian Maya, tepatnya di Meksiko dan El Salvador.
Produksi
singkong dunia diperkirakan mencapai 192 juta ton pada tahun 2004.
Nigeria menempati urutan pertama dgn 52,4
juta ton, disusul Brasil dgn 25,4 juta ton. Indonesia menempati posisi ketiga dgn 24,1
juta ton, diikuti Thailand dgn 21,9 juta
ton (FAO, 2004[1])
Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di
Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.
Di Hindia Belanda
Singkong
ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[2],
setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 dari Brasil. Menurut Haryono Rinardi dalam Politik Singkong
Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa oleh Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16. Tanaman ini dapat dipanen
sesuai kebutuhan. “Sifat itulah yang menyebabkan tanaman ubi kayu seringkali
disebut sebagai gudang persediaan di bawah tanah,” tulis Haryono.
Butuh
waktu lama singkong menyebar ke daerah lain, terutama ke Pulau Jawa. Diperkirakan singkong kali
pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Timur pada 1852.
“Bupatinya sebagai seorang pegawai negeri harus memberikan contoh dan bertindak
sebagai pelopor. Kalau tidak, rakyat tidak akan mempercayainya sama sekali,” tulis
Pieter Creutzberg dan J.T.M. van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi
Indonesia.
Namun
hingga 1876, sebagaimana dicatat H.J. van Swieten,
kontrolir di Trenggalek, dalam
buku De Zoete Cassave (Jatropha janipha) yang terbit 1875,
singkong kurang dikenal atau tidak ada sama sekali di beberapa bagian Pulau
Jawa, tapi ditanam besar-besaran di bagian lain. “Bagaimanapun juga, singkong
saat ini mempunyai arti yang lebih besar dalam susunan makanan penduduk
dibandingkan dengan setengah abad yang lalu,” tulisnya, sebagaimana dikutip
Creutzberg dan van Laanen. Sampai sekitar tahun 1875, konsumsi singkong di Jawa
masih rendah. Baru pada permulaan abad ke-20, konsumsinya meningkat pesat.
Pembudidayaannya juga meluas. Terlebih rakyat diminta memperluas tanaman
singkong mereka.
Peningkatan
penanaman singkong sejalan dengan pertumbuhan penduduk Pulau Jawa yang pesat.
Ditambah lagi produksi padi tertinggal di belakang pertumbuhan penduduk.
“Singkong khususnya menjadi sumber pangan tambahan yang disukai,” tulis Marwati
Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto
dalam Sejarah Nasional Indonesia V. Hingga saat ini, singkong telah menjadi
salah satu bahan pangan yang utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di
dunia. Di Indonesia, singkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung.
Pabrik Tapioka Kedung Kawung Cikalahang milik
firma Goan Goan & Co, Cirebon, Jawa Barat (tahun tidak diketahui)
Hindia
Belanda pernah menjadi salah satu pengekspor dan penghasil tepung tapioka terbesar di dunia. Di Jawa banyak
sekali didirikan pabrik2 pengolahan singkong untuk dijadikan tepung tapioka.
Seperti dalam buku Handbook of the Netherlands East Indies, pada tahun 1928
tercatat 21,9% produksi tapioka diekspor ke Amerika Serikat, 16,7% ke Inggris, 8,4% ke Jepang, lalu 7% dikirim ke Belanda, Jerman, Belgia, Denmark dan Norwegia. Biasanya tepung olahan singkong
tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku lem
dan permen karet, industri tekstil dan furniture.
Singkong
adalah nama lokal di kawasan Jawa Barat untuk
tanaman ini. Nama "ubi kayu" dan "ketela pohon" dipakai
dalam bahasa Melayu secara luas. Nama "ketela" secara etimologi berasal dari kata dalam
bahasa Portugis "castilla" (dibaca "kastiya"),
karena tanaman ini dibawa oleh orang Portugis dan Castilla (Spanyol).
Pengolahan
Umbi
singkong dapat dimakan mentah. Kandungan utamanya adalah pati
dengan sedikit glukosa sehingga rasanya sedikit manis.
Pada keadaan tertentu, terutama bila teroksidasi, akan terbentuk glukosida racun yang selanjutnya membentuk asam sianida (HCN). Sianida ini akan
memberikan rasa pahit. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit
20 mg HCN per kilogram umbi segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang
rasanya pahit. Proses pemasakan dapat secara efektif menurunkan kadar
racun.Dari pati umbi ini dibuat tepung tapioka (kanji).
Penggunaan
Dimasak
dengan berbagai cara, singkong banyak digunakan pada berbagai macam masakan.
Direbus untuk menggantikan kentang, dan pelengkap
masakan. Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, baik
untuk pengidap alergi.
Kadar gizi
Kandungan
gizi singkong per 100 gram meliputi:
- Kalori 121 kal
- Air
62,50 gram
- Fosfor 40,00 gram
- Karbohidrat 34,00 gram
- Kalsium 33,00 miligram
- Vitamin C 30,00 miligram
- Protein 1,20 gram
- Besi 0,70 miligram
- Lemak 0,30 gram
- Vitamin B1 0,01 miligram[3]
Singkong sebagai makanan babi
Biasa
digunakan di negara-negara seperti di Amerika Latin, Karibia, Tiongkok, Nigeria dan Eropa. Sebuah
pengalaman pak Emanuel Porat sebagai seorang praktisi peternakan rakyat di
daerah Nusa Tenggara Timur
dipaparkan sebagai berikut "saya sering sekali menemukan keracunan sianida
yang berasal dari daun ubi kayu yang telah di rebus sebagai pakan ternak babi.
umumnya masyarakat Manggarai memasak pakan tersebut pada malam hari dan pada
pagi harinya dipanaskan sekedarnya saja. dan dari beberapa kasus yang saya
temukan perlakuan ini menyebabkan ternak babi dengan berat antara 10 hingga 50
kg dapat mati dalam waktu 2 - 3 jam. hingga sekarang saya belum dapat mengatasi
keracunan akibat sianida ini pada ternak babi karena
reaksinya yang begitu cepat". Gejalanya dapat terlihat dari keluarnya busa
pada mulut ternak, berjalan berputar-putar, dan jika dilakukan pemeriksaan post
mortem pada daerah lambung terjadi penimbunan gas yang sangat tinggi.
Ternyata sianida memang racun yang sangat cepat bekerja pada peredaran darah.
tingkat resistensi individu ternak tergantung konsentrasi sianida dalam darah.
sebagai tindakan pencegahan sebaiknya tidak memberikan daun ubi kayu sebagai
pakan ternak sebelum direbus.
Etimologi dan sinonim
Singkong
adalah nama lokal di kawasan Jawa Barat untuk
tanaman ini. Nama "ubi kayu" dan "ketela pohon" dipakai
dalam bahasa Melayu secara luas. Nama
"ketela" secara etimologi berasal
dari kata "castilla" (dibaca "kastilya"), karena tanaman
ini dibawa oleh orang Portugis dan Castilla (Spanyol).
Dalam
bahasa lokal, bahasa Jawa
menyebutnya pohung, bahasa Sangihe
bungkahe, bahasa Tolitoli dan
Gorontalo kasubi, dan bahasa Sunda sampeu.
Singkong vs Keju
Kenapa
singkong selalu dihubungkan dengan keju untuk membandingkan antara orang miskin
dan orang kaya, rakyat jelata dan priyayi dll?
Diperkirakan
saat masuknya singkong dibawa oleh orang Portugis bersamaan juga dengan
diperkenalkannya makanan keju. Keju berasal dari
bahasa portugis Queijo. Dan ketika Belanda berkuasa, semakin dikenalkanlah
makanan ini. Ketika banyak rakyat pribumi dengan mudah menanam dan mengolah
singkong menjadi bahan makanan, keju "pemasaran"nya dibatasi agar
tidak sembarang orang bisa membuat dan mengolah keju, keju pun hanya beredar di
kalangan2 tertentu saja, umumnya orang Belanda dan Eropa
lainnya, serta kaum pribumi terpandang (jutawan, bangsawan).
Menurut
Creutzberg dan van Laanen, meski nilai singkong sebagai makanan kurang
dibandingkan beras atau jagung, ia tetap digunakan untuk menggantikan beras di
berbagai bagian Jawa Tengah pada masa paceklik sebelum panen atau saat panen
gagal.
Namun,
menurut Marwati dan Nugroho, karena dipandang lebih rendah daripada padi
sebagai bahan pangan pokok, singkong memiliki reputasi buruk di kalangan pakar
ekonomi pertanian. Kandungan proteinnya lebih rendah daripada padi dan
peningkatan konsumsi per kapitanya biasanya dipandang sebagai tanda kemiskinan.
Kendati demikian, peralihan ke singkong menjadi bukti bagi dinamika pertanian
tanaman pangan Pulau Jawa pada masa akhir kolonial.
5. tanaman ubi jalar
Ubi jalar dapat dibudidayakan melalui stolon/batang rambatnya. cara
menanamnya cukup mudah, dengan mencangkul lahan yang mau ditanami sehingga
stolon/batang rambat ubi jalar mudah dimasukkan dalam tanah. pemeliharaannya
cukup mudah. ubi jalar akan tumbuh baik bila lahan terkena matahari langsung,
pemeliharaan dari gulma untuk menghindari persaingan unsur hara disekitar
tanaman. pemberian pupuk UREA atau Organik akan menambah hasil panen yang lebih
bagus. Panen ubi jalar yaitu dengan mencangkuli sekitar tanaman,ini untuk
mempermudah ubi rusak karena terkena cangkul atau alat pertanian.Sejarah
Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia.Ubi jalar merah
Berdasarkan riset yang dilakukan Institut Pertanian Bogor, ubi jalar merah yang berasal dari Papua mengandung senyawa beta karotena yang mampu menurunkan infeksi HIV/AIDS. Sehingga diusulkan menjadi diet utama penderita HIV/AIDS bersama bahan lain.[1] Dibandingkan dengan bahan makanan pokok lain, ubi jalar biasa memiliki kandungan senyawa pembentuk vitamin A tertinggi, yaitu mencapai 14187 IU per 100 gram porsi, atau mencapai 89% kebutuhan harian.[2] Beta karotena termasuk salah satu senyawa pembentuk vitamin A.
6. tanaman kacang tanah
Kacang tanah
(Arachis hypogaea L.) adalah tanaman polong-polongan atau legum
anggota suku Fabaceae yang dibudidayakan, serta menjadi
kacang-kacangan kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia.[1]
Tanaman yang berasal dari benua Amerika ini tumbuh secara perdu setinggi 30
hingga 50 cm (1 hingga 1½ kaki) dengan daun-daun kecil tersusun majemuk.[1]
Tanaman
ini adalah satu di antara dua jenis tanaman budidaya selain kacang bogor, Voandziea subterranea
yang buahnya mengalami pemasakan di bawah permukaan tanah. Jika buah yang masih
muda terkena cahaya, proses pematangan biji
terganggu.[1]
Di
Indonesia, ia dikenal pula sebagai kacang una, suuk (Sd.), kacang jebrol, kacang
bandung, kacang tuban, kacang kole, serta kacang banggala.
Dalam perdagangan internasional dikenal sebagai bahasa Inggris: peanut, groundnut.
Sejarah dan perkembangannya
Tanaman
ini berasal dari Amerika Selatan tepatnya adalah Brazillia, namun saat ini
telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis Masuknya
kacang tanah ke Indonesia pada abad ke-17 diperkirakan karena dibawa oleh
pedagang-pedagang Spanyol,Cina,atau Portugis sewaktu melakukan pelayarannya
dari Meksiko ke Maluku setelah tahun 1597 Pada tahun 1863 Holle memasukkan
Kacang Tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 Scheffer memasukkan pula Kacang
Tanah dari Mesir Republik Rakyat Tiongkok dan India kini merupakan penghasil
kacang tanah terbesar dunia.
Sentra penanaman
Kacang
tanah bermula terpusat di India, China, Nigeria, Amerika Serikat dan Gombai,
kemudian meluas ke negara lain.
Di Indonesia
Kacang
tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam
di seluruh Indonesia
Tanaman
Kacang tanah bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, sedang bijinya
dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati , minyak dan lain-lain[2].
Sebagai
tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya
yang kaya protein dan lemak.[3]
Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya), digoreng, atau
disangrai.[3] Di Amerika Serikat, biji kacang tanah
diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang
menguntungkan.[3] Produksi minyak kacang tanah mencapai
sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO.[1]
Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah
juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.[3]
Jenis Tanaman
Kacang
tanah budidaya di Indonesia dibagi menjadi dua tipe
- Tipe tegak
Jenis
Kacang ini tumbuh lurus atau sedikit miring keatas, buahnya terdapat pada
ruas-ruas dekat rumpun, umumnya pendek genjah dan kemasakan buahnya serempak.
- Tipe menjalar.
Jenis
ini tumbuh kearah samping, batang utama berukuran panjang, buah terdapat pada
ruas-ruas yang berdekatan dengan tanah dan umnya berumur panjang. Tipe menjalar
lebih disukai karena memiliki potensi hasil lebih tinggi.
Varietas
Varietas
unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik sebagai berikut
- Daya hasil tinggi.
- Umur pendek (genjah) antara
85-90 hari.
- Hasilnya stabil.
- Tahan terhadap penyakit utama
(karat dan bercak daun).
- Toleran terhadap kekeringan
atau tanah becek.
Varietas
kacang tanah di Indonesia yang
terkenal, yaitu
- Kacang Brul, berumur pendek
(3-4 bulan).
- Kacang Cina, berumur panjang
(6-8 bulan).
- Kacang Holle, merupakan tipe
campuran hasil persilangan antara varietas-varietas yang ada. Kacang Holle
tidak bisa disamakan dengan kacang lain karena memang berbeda varietas.
Kandungan Gizi
Kacang
tanah kaya dengan lemak, mengandungi protein yang tinggi, zat besi, vitamin E
dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, vitamin A dan K, lesitin, kolin
dan kalsium.[3] Kandungan protein dalam kacang tanah
adalah jauh lebih tinggi dari daging, telur
dan kacang soya.[3] Mempunyai rasa
yang manis dan banyak digunakan untuk membuat
beraneka jenis kue[3].
Kacang
tanah juga dikatakan mengandung bahan yang dapat membina ketahanan tubuh dalam
mencegah beberapa penyakit.[1]
Mengkonsumsi satu ons kacang tanah lima kali seminggu dilaporkan dapat mencegah
penyakit jantung[1]. Kacang tanah bekerja meningkatkan
kemampuan pompa jantung dan menurunkan resoki penyakit jantung koroner.[1]
Memakan segenggam kacang tanah setiap hari terutama pesakit kencing manis dapat
membantu kekurangan zat.[3]
Kacang
tanah mengandung Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh ganda dan Omega 9 yang
merupakan lemak tak jenuh tunggal.[3]
Dalam 1 ons kacang tanah terdapat 18 gram Omega 3 dan 17 gram Omega 9.[3]
Kacang tanah mengandung fitosterol yang
justru dapat menurunkan kadar kolesterol dan level trigliserida, dengan cara menahan
penyerapan kolesterol dari makanan yang disirkulasikan dalam darah dan
mengurangi penyerapan kembali kolesterol dari hati,
serta tetap menjaga HDL kolesterol.[3]
Kacang tanah juga mengandung arginin yang dapat
merangsang tubuh untuk memproduksi nitrogen monoksida
yang berfungsi untuk melawan bakteri tuberkulosis.[1]
Kajian-kajian
menunjukkan kacang tanah dapat sebagai penurun tekanan darah tinggi dan juga
kandungan kolestrol dalam darah, berkesan untuk
melegakan penyakit hemofilia atau
kecenderungan mudah berdarah, penyakit keputihan dan insomnia.[3]
Namun Kacang tanah sangat dicegah pada mereka yang menghadapi penyakit jenis kanker payudara dan yang mempunyai masalah jerawat atau acne juga dinasihatkan
berhenti mengonsumsi kacang tanah.[3]
Pertumbuhan
Iklim
- a) Curah hujan yang sesuai
untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu
keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak terserbuki oleh lebah.
Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan kelembapan di
sekitar pertanaman kacang tanah.
- b) Suhu udara bagi tanaman
kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara minimal bagi tumbuhnya
kacang tanah sekitar 28–32 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C
menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, bahkan jadi kerdil
dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
- c) Kelembapan udara untuk
tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya curah hujan yang
tinggi akan meningkatkan kelembapan terlalu tinggi di sekitar pertanaman.
- d) Penyinaran sinar matahari
secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang tanah, terutama kesuburan
daun dan perkembangan besarnya kacang.
Media Tanam
- a) Jenis tanah yang sesuai
untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang gembur/bertekstur
ringan dan subur.
- b) Derajat keasaman tanah yang
sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH antara 6,0–6,5.
- c) Kekurangan air akan
menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang
diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada
disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau
lahan yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi
pertumbuhan kacang tanah.
Ketinggian Tempat
- Ketinggian tempat yang baik dan
ideal untuk tanaman kacang tanah adalah pada ketinggian antara 500 m dpl.
Jenis kacang tanah tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu
untuk dapat tumbuh optimal.
Hama dan penyakit
Beberapa
hama dan penyakit yang dapat menyerang kacang tanah adalah[2]:
- Penyakit layu
Penyakit
layu disebabkan oleh bakteri Xanthomonas
Solanacearum. Pada siang hari waktu sinar matahari terik tanaman
sekonyong-konyong terkulai seperti disimm air panas, tanaman langsung mati.
Cara pengendalian dengan pergiliran tanaman, penyemprotan Streptomycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan 0,5-1 liter.
Agrimycin dalam kelarutan 200-400 liter/ha.[4]
- Penyakit bercak daun
Penyakit
Bercak daun disebabkan oleh fungus Cercospora
personata. Bercak yang ditimbulkan pada daun sebelah atas coklat
sedangkan sebelah bawah daun hitam. Ditengah bercak daun kadang-kadang terdapat
bintik hitam dari konidiospora.
Cendawan ini timbul pada tanaman umur 40 -50 hari hingga 70 hari. Cendawan ini
dapat dikendalikan dengan Antmkol atau Dakonil,penyemprotan dilakukan pada
tanaman selesai berbunga, dengan interval penyemprotan
1 minggu atau 10 hari
sekali.[4]
- Penyakit Sclerotium
Penyakit
ini disebabkan oleh Sclerotium rolfsii,
merusak tanaman pada waktu cuaca lembap. Cendawan
menyerang pada pangkal batang, bagian dari tanaman yang lunak, menimbulkan
bercak-bercak hitam. Tanaman yang terserang akan layu
dan mati. Pengendalian : dengan memperbaiki pengairan, agar air pengairan
dapat mengalir.
- Penyakit karat
Penyakit
ini disebabkan oleh Uromyces arachidae,
menyerang tanaman yang masih muda menyebabkan daun berbintik-bintik coklat daun
menjadi mengering. Pengendaliannya dengan menanam varietas yang tahan.
- Kontaminasi aflatoksin
Kacang
tanah yang mengalami kontaminasi oleh kapang Aspergillus flavus
dapat menghasilkan aflatoksin.[5]
Aflatoksin, terutama B1 diketahui sangat karsinogenik, toksik, hepatotoksin, dan mutagenik pada manusia, mamalia, dan unggas.[5]
Pada kacang tanah, B1 ditemukan pada polong segar, polong, kering, biji, dan
produk olahan.[5] Untuk mencegah infeksi dapat dilakukan
dengan perbaikan budidaya, terutama pengairan pada periode kritis, pengeringan
pasca panen, pemenuhan kebutuhan gizi, dan pengendalian
penyakit daun.[5]
- Hama Empoasca.
Hama
yang penting bagi tanaman kacang tanah adalah hama Empoasca. Hama ini tidak terlalu
merugikan bagi tanaman kacang tanah. Cara pengendaliannya dengan insektisida yang tersedia.
- Hama Uret.
Hama
yang memakan akar, batang bagian bawah dan polong akhirnya tanaman layu dan
mati. Cara pengendaliannya dengan menanam serempak, penyiangan intensif,
tanaman terserang dicabut dan uret dimusnahkan.
- Hama Ulat berwarna
Hama
yang merusak daun menjadi terlipat menguning, akhirnya mengering. Cara
pengendalian dengan penyemprotan insektisida Azodrin 15 W5C, Sevin 85 S atau
Sevin 5 D.
- Hama Ulat grapyak
Hama
yang memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok. Cara pengendaliannya
(1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan
insektisida lannate L, Azodrin 15 W5C.
- Hama Ulat jengkal
Hama
yang menyerang daun kacang tanah.Cara pengendaliannya dengan penyemprotan
insektisida Basudin 60 EC Azodrin 15 W5C, Lannate L Sevin 85 S.
- Hama Sikada
Hama
yang menghisap cairan daun. Cara pengendaliannya (1) penanaman serempak,
pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate 25 WP, Lebaycid 500
EC, Sevin 5D, Sevin 85 S, Supraciden 40 EC.
- Hama Kumbang daun
Hama
yang memakan daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk
bunga. Cara pengendaliannya (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan Agnotion
50 EC, Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC.
7. tanaman kedelai
Kedelai, atau kacang
kedelai, adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar
banyak makanan dari Asia Timur seperti
kecap, tahu,
dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan
sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Kedelai
merupakan sumber utama protein nabati dan minyak
nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia
adalah Amerika Serikat
meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia
setelah 1910.
Keanekaragaman
Kedelai
yang dibudidayakan adalah Glycine max yang merupakan keturunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine
soja. Dengan versi ini, G. max juga dapat disebut sebagai G. soja
subsp. max. Kedelai merupakan tanaman budidaya daerah Asia
subtropik seperti Cina dan Jepang. Sebaran G. soja sendiri lebih luas,
hingga ke kawasan Asia tropik.
Kedelai
adalah tumbuhan yang selalu peka terhadap pencahayaan. Dalam pencahayaan agak
rendah batangnya akan mengalami pertumbuhan memanjang sehingga berwujud seperti
tanaman merambat.
Beberapa
kultivar kedelai putih budidaya di
Indonesia, di antaranya adalah 'Ringgit', 'Orba', 'Lokon', 'Davros', dan
'Wilis'. 'Edamame' adalah kultivar kedelai berbiji besar berwarna hijau yang
belum lama dikenal di Indonesia dan berasal dari Jepang.
Budidaya
Kedelai
dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya
dilakukan pada akhir musim penghujan,
setelah panen padi.
Pengerjaan tanah biasanya minimal. Biji dimasukkan langsung pada lubang-lubang
yang dibuat. Biasanya berjarak 20–30 cm. Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan, namun setelah tanaman tumbuh
penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan apa pun. Lahan
yang belum pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi "starter" bakteri
pengikat nitrogen Bradyrhizobium
japonicum untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan tanah
dilakukan pada saat tanaman remaja (fase vegetatif awal), sekaligus sebagai
pembersihan dari gulma dan tahap pemupukan fosfat kedua.
Menjelang berbunga pemupukan kalium dianjurkan
walaupun banyak petani yang mengabaikan untuk menghemat biaya.
Pemerian
Kedelai
dikenal dengan berbagai nama: sojaboon (bahasa Belanda), soja, soja bohne
(bahasa Jerman), soybean (bahasa Inggris), kedele (bahasa
Indonesia sehari-hari, bahasa Jawa), kacang
ramang, kacang bulu, kacang gimbol, retak mejong, kaceng
bulu, kacang jepun, dekenana, demekun, dele, kadele,
kadang jepun, lebui bawak, lawui, sarupapa tiak, dole, kadule, puwe mon,
kacang kuning (Sumatera bagian utara) dan gadelei.
Berbagai nama ini menunjukkan bahwa kedelai telah lama dikenal di Indonesia.
Kedelai
merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit,
sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah
penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah.
Kedelai, khususnya kedelai putih dari daerah subtropik, juga merupakan tanaman hari-pendek dengan waktu kritis
rata-rata 13 jam. Ia akan segera berbunga apabila pada masa siap berbunga
panjang hari kurang dari 13 jam. Ini menjelaskan rendahnya produksi di daerah
tropika, karena tanaman terlalu dini berbunga.
Biji
Biji
kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan
endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning,
hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat
pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula
yang bundar atau bulat agak pipih.
Kecambah
Biji
kedelai yang kering akan berkecambah bila memperoleh air yang cukup. Kecambah
kedelai tergolong epigeous, yaitu keping biji muncul diatas tanah. Warna hipokotil, yaitu bagian batang kecambah di
bawah daun kecambah (kotiledon), ungu atau hijau yang terpaut dengan warna
bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu berbunga ungu, sedang yang berhipokotil
hijau berbunga putih. Kecambah kedelai dapat digunakan sebagai sayuran (tauge).
Perakaran
Tanaman
kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh
menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah
turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan
air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman
hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan
alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan
tempat terbentuknya bintil-bintil akar.
Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri
pengikat nitrogen Bradyrhizobium
japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai.
Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk
sekitar 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen
langsung dari udara dalam bentuk gas N2 (nitrogen) yang kemudian dapat digunakan
oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO3+).
Batang
Kedelai
berbatang memiliki tinggi 30–100 cm. Batang dapat membentuk 3 – 6 cabang,
tetapi bila jarak antar tanaman rapat, cabang menjadi berkurang, atau tidak
bercabang sama sekali. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas
(determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah
terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki ciri khas berbunga
serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman pendek sampai sedang,
ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama
besar dengan daun batang tengah. Tipe tidak terbatas memiliki ciri berbunga
secara bertahap dari bawah ke atas dan tumbuhan terus tumbuh. Tanaman berpostur
sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe
setengah terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya.
Bunga
Bunga
kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga mempunyai alat jantan dan
alat betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup sehingga
kemungkinan kawin silang alami amat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas
batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong
walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna. Sekitar 60% bunga rontok
sebelum membentuk polong.
Buah
Buah
kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 100 – 250 polong.
Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama
proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah
menjadi kehitaman.
Daun
Pada
buku (nodus) pertama tanaman yang tumbuh dari biji terbentuk sepasang
daun tunggal. Selanjutnya, pada semua buku di atasnya terbentuk daun majemuk
selalu dengan tiga helai. Helai daun tunggal memiliki tangkai pendek dan daun
bertiga mempunyai tangkai agak panjang. Masing-masing daun berbentuk oval,
tipis, dan berwarna hijau. Permukaan daun berbulu halus (trichoma) pada kedua
sisi. Tunas atau bunga akan muncul pada ketiak tangkai daun majemuk. Setelah
tua, daun menguning dan gugur, mulai dari daun yang menempel di bagian bawah
batang.
Produksi dan perdagangan di Indonesia
konsumsi
kedelai di Indonesia mencapai 2,2 juta tons per tahun; dari jumlah itu sekitar
1,6 juta ton harus diimpor.75% dari jumlah itu diimpor oleh lima importir yaitu
PT Gerbang
Cahaya Utama, PT Teluk Intan,
PT Gunung Sewu, PT Cargill
Indonesia, dan PT Sekawan
Makmur Bersama.[1]
|
Produksi
kedelai di Indonesia[2]
|
|||||||
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
|
|
Jumlah
Produksi di Indonesia (ton)
|
723 483
|
808 353
|
747 611
|
592 634
|
776 491
|
603 531
|
-
|
Sepanjang
2013, harga kedelai di Indonesia mengalami kenaikan tajam akibat kurangnya
pasokan[3][4] sehingga menyebabkan berbagai pedagang tahu dan tempe
mengalami kerugian[5] dan harus menaikan harga.[6]
Beberapa pihak memperkirakan kenaikan harga ini akan memicu inflasi tinggi pada
bulan September 2013, meski Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Hatta Rajasa menyangkal hal tersebut.[7]
Polemik kedelai ini juga memicu gerakan aksi mogok oleh asosiasi produsen tahu
tempe.[8]
Untuk
meningkatkan produksi kedelai di Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia
akan membuka 1 juta hektare lahan di kawasan transmigrasi untuk ditanami kedelai secara
bertahap selama tiga tahun. Lahan itu tersebar di 26 provinsi di Indonesia.[9]
Produk olahan dari kedelai
Di
Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia
harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan
Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih
rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya
mengubah sifat fotosensitif
kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang
mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi
Indonesia.
Kedelai
merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman
dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan
ternak.
Pemanfaatan
utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak
serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi
- tahu (tofu),
- bermacam-macam saus penyedap
(seperti kecap, taosi, dan tauco),
- tempe,
- susu kedelai (baik bagi orang yang sensitif
laktosa),
- tepung kedelai,
- minyak (dari sini dapat dibuat sabun,
plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel),
- makanan ringan
8. tanaman kacang hijau
Kacang hijau
(Vigna radiata) adalah sejenis palawija yang dikenal luas di daerah
tropika. Tumbuhan yang termasuk suku
polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam
kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi.
Kacang hijau di Indonesia menempati
urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.
Bagian
paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau
direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau
dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi
sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge.
Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati
yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur.
Tepung biji kacang hijau, disebut di
pasaran sebagai tepung hunkue,
digunakan dalam pembuatan kue-kue dan cenderung membentuk gel.
Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun.
Manfaat Kacang Hijau
Kacang
hijau memiliki kandungan protein yang cukup
tinggi dan merupakan sumber mineral penting, antara
lain kalsium dan fosfor. Sedangkan kandungan lemaknya
merupakan asam lemak tak jenuh.
Kandungan
kalsium dan fosfor pada kacang hijau bermanfaat untuk memperkuat tulang. Kacang
hijau juga mengandung rendah lemak yang sangat baik bagi mereka yang ingin
menghindari konsumsi lemak tinggi. Kadar lemak yang rendah dalam kacang hijau
menjadikan bahan makanan atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak
mudah berbau.
Lemak
kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam lemak jenuh.
Umumnya kacang-kacangan memang mengandung lemak tak jenuh tinggi. Asupan lemak
tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Kacang
hijau mengandung vitamin B1 yang berguna untuk pertumbuhan dan vitalitas pria.
Maka kacang hijau dan turunannya sangat cocok untuk dikonsumsi oleh mereka yang
baru menikah.
Kacang
hijau juga mengandung multi protein yang berfungsi mengganti sel mati dan
membantu pertumbuhan sel tubuh, oleh karena itu anak-anak dan wanita yang baru
saja bersalin dianjurkan untuk mengkonsumsinya.
Komentar